Inovasi Desa, Kemendes Harap Berlanjut

Inovasi Desa, Kemendes Harap Berlanjut

Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) dan Program Inovasi Desa (PID) telah berjalan selama 5 tahun ini disebut telah sejalan dengan Program Nawa Cita 3 Presiden Jokowi. Kedua program pendampingan desa ini dinilai berhasil karena membawa manfaat besar bagi masyarakat

Penilaian tersebut dapat dilihat baik dari sisi output data bidang pembangunan, pemberdayaan masyarakat dan inovasi desa maupun sisi outcome atau dampaknya bagi masyarakat desa.

“Oleh karena itu, program tersebut perlu dilanjutkan untuk lima tahun mendatang,” kata Sekjen Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Anwar Sanusi dalam keterangan tertulis, seperti ditulis detik.com.

Dalam acara Penguatan Program P3MD dan PID di Jakarta pertengahan Oktober lalu, Anwar mengatakan perlu adanya penguatan kembali sistem kerja dan tata kelola dalam konteks manajemen nasional.

“Kita mengakui program ini berjalan dengan baik karena ada trust, komitmen dan line of command di antara kita. Di awal-awal kita jatuh bangun, tetapi pada akhirnya dapat terlaksana dengan baik dan hasilnya membanggakan,” katanya.

Halaman detik.com juga merilis Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kemendes PDTT, Taufik Madjid berharap program P3MD maupun PID segera diproses kelanjutannya untuk 2020.

“Ini penting dilakukan untuk memenuhi mandat, sekaligus pengawalan dana desa dalam konteks pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa yang inovatif guna mempercepat kesejahteraan masyarakat desa,” tegas Taufik. (Sumber : detik.com)

Share and Enjoy !

Shares
AKSI PENYELAMATAN KORBAN BENCANA OLEH TIM DESTANA

AKSI PENYELAMATAN KORBAN BENCANA OLEH TIM DESTANA

Memasuki musim penghujan, debit air Bengawan Madiun nampak mulai meluap. Arus sungai yang deras dan dalamnya bengawan tersebut sempat menghanyutkan 7 orang di Desa Waruk Tengah Kecamatan Pangkur – Ngawi. Atas kesigapan Tim Destana (Desa Tangguh Bencana), ke-7 korban hanyut berhasil diselamatkan.

Destana merupakan program penanggulangan bencana dari pemerintah pusat melalui BNPB yang ditindaklanjuti BPBD masing-masing daerah. Kabupaten Ngawi merupakan salah satu daerah yang rawan bencana, termasuk bencana banjir karena diapit oleh sungai besar yakni Bengawan Solo dan Bengawan Madiun.

Secara nasional, ada 64 Desa Tangguh Bencana (Destana) yang tersebar di 32 propinsi. Di Propinsi Jawa Timur ada 8 desa yang mendapat program ini. Sementara Kabupaten Ngawi mendapat jatah 2 desa yakni Desa Waruk Tengah Kecamatan Pangkur dan Desa Simo Kecamatan Kwadungan.

Korban yang diketahui oleh warga sekitar berenang untuk menyelamatkan diri. Mengantisipasi tewasnya korban, Tim Destana Waruk Tengah dengan sigap melakukan aksi penyelamatan. Atas kekompakan dan koordinasi yang cepat, dengan menggunakan perahu karet Tim Destana berhasil menyelamatkan ke 7 korban hanyut tersebut. 

Itulah gambaran simulasi ‘Aksi Penyelamatan 7 Orang Hanyut Oleh Tim Destana’ yang disaksikan langsung oleh BPBD Propinsi Jawa Timur dan BPBD Kabupaten Ngawi.

Menurut Kasubag Perencanaan BPBD Ngawi, Bulqis, yang namanya bencana siapapun tidak mengharapkan. Namun dengan adanya pelatihan dan simulasi ini diharapkan bisa menanggulangi jatuhnya korban.

“Banyak pengetahuan yang didapat dengan menjadi relawan Destana, mulai dari langkah penanggulangan bencana banjir, longsor hingga puting belung. Rencana Penanggulangan Bencana ini merupakan rencana yang memuat program-program pra-bencana, saat tanggap darurat, maupun pasca bencana,” terang Bulqis di lokasi simulasi.

Sementara menurut Sugeng Yanu, Kasi Kesiapsiagaan BPBD Propinsi Jawa Timur yang turut menyaksikan simulasi aksi kesigapan Tim Destana Waruk Tengah dalam penyelamatan korban menuturkan, secara umum tim ini sudah bisa dihandal jika menghadapi bencana.

“Dari sisi latihannya sudah bisa dibilang berhasil, namun keberhasilan sesungguhnya itu di saat ada kejadian, dan harapan kita bencana itu jangan sampai terjadi. Dengan adanya program desa tangguh, paling tidak kita sudah membekali pengetahuan kepada relawan cara-cara penanggulangan dan penyelamatan,” jelas Sugeng Yanu. (*)

Share and Enjoy !

Shares
Destana : Stabilitas Lingkungan Cegah Bencana

Destana : Stabilitas Lingkungan Cegah Bencana

Sebagai tindak lanjut atas Program Desa Tangguh Tanggap Bencana (Destagana) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Desa Waruk Tengah Kecamatan Pangkur – Ngawi melakukan kegiatan rutin.

Dimulai dari hal sederhana, sampah yang berserakan di sepanjang jalan desa, rumput ilalang dibabat habis oleh tim Destagana Desa Waruk Tengah. Langkah ini sebagai awal untuk pencegahan dan keseimbangan lingkungan.

“Ini merupakan kegiatan rutin ‘Jum’at Bersih’ yang kita canangkan pada program Destana (Desa Tangguh Bencana). Dengan kegiatan seperti ini diharapkan mampu mengajak warga masyarakat untuk peduli dan gotong royong akan pentingnya menjaga lingkungan yang bersih,” jelas Mulyanto Kepala Desa Waruk Tengah.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, sebanyak 64 Desa Tangguh Tanggap Bencana (Destagana) tersebar di 32 provinsi. Di Propinsi Jawa Timur ada 8 desa yang mendapat program ini. Sementara Kabupaten Ngawi mendapat jatah 2 desa termasuk Desa Waruk Tengah, Kecamatan Pangkur.

Share and Enjoy !

Shares
Waruk Tengah Masuk Desa Tangguh

Waruk Tengah Masuk Desa Tangguh

Badan Nasional Penanggulangan Bencana membentuk desa-desa tangguh tanggap bencana. Sebanyak 64 Desa Tangguh Tanggap Bencana (Destagana) yang tersebar di 32 provinsi akan siap diluncurkan tahun ini.

“Semua provinsi ada, kecuali DKI Jakarta,” kata Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB, Muhtaruddin, di Banyuwangi, seperti yang ditulis Tempo Online.

Masih menurutnya, program Destagana dikhususkan untuk desa yang berpotensi mengalami bencana puting beliung, longsor, banjir, dan kekeringan. Dan tujuannya untuk menyiapkan masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana.

Kesiapan itu diwujudkan dalam dokumen penanggulangan bencana yang berlaku lima tahun.Ada sembilan program yang harus dilakukan oleh setiap Destagana, yakni analisis resiko dengan membuat peta ancaman, kerentanan, dan kapasitas; mendirikan forum relawan; rencana aksi komunitas, rencana kontijensi desa; membuat jalur evakuasi, dan jalur ekonomi untuk pembiayaan pasca bencana.

Seperti yang dilansir Tempo Online, BNPB menggelontorkan anggaran Rp 195 juta per desa. Rinciannya, Rp 140 juta untuk membuat dokumen penanggulangan bencana dan sisanya dipakai untuk biaya sosialisasi. Kabupaten Ngawi yang dilintasi Sungai Solo dan Sungai Madiun yang begitu rentan terhadap bencana banjir, kecipratan program BNPB ini. Yakni Desa Waruk Tengah Kecamatan Pangkur – Ngawi dan Desa Simo Kecamatan Kwadungan – Ngawi.

Tri Aprilianto dan Abdul Basid selaku pendamping, memberikan sosialisasi program Destana yang berkelanjutan sejak 22 September 2015 lalu di Desa Waruk Tengah. Sebanyak 30 peserta dari unsur pelaku usaha, tokoh masyarakat, Karang Taruna, dan PKK yang dilakukan di Pendopo Desa Waruk Tengah – Pangkur.

Kepala Desa Waruk Tengah, Mulyanto, mengaku bangga atas terpilihnya sebagai desa tangguh untuk menghadapi jika ada bencana alam. “Karena desa kita berada dekat dengan Sungai Madiun, hal ini perlu adanya pendayagunaan dan kemampuan masyarakat untuk menghadapi bencana banjir, puting beliung, maupun kekeringan,” terangnya.

Share and Enjoy !

Shares
Diklaim Membaik, Pemerintah Targetkan Penyerapan Dana Desa di Atas 98 Persen

Diklaim Membaik, Pemerintah Targetkan Penyerapan Dana Desa di Atas 98 Persen

Penyerapan Dana Desa

TANGERANG, (PR).- Penyerapan dana desa diklaim membaik selama empat tahun terakhir. Pada akhir tahun ini, pemerintah menargetkan penyerapan dana desa di atas 98 persen.

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo mengatakan, pada awal pengucuran dana desa di 2015 lalu, penyerapannya hanya 82 persen dari alokasi dana Rp 20,67 triliun. Namun setelah Kemendes mengadakan pendamping dana desa bekerja sama dengan beberapa instansi, seperti Kemendagri, Kemenkeu, polisi, kejaksaan BPKP dan BPK, penyerapan dana desa mengalami peningkatan.

Pada 2016, dana yang diserap adalah 97 persen. Tahun 2017 dana yang diserap 98 persen dan pada tahun ini, pemerintah menargetkan penyerapan bisa lebih dari 99 persen.

“Pelaksanaan program dana desa bukan tanpa tantangan. Awalnya kepala dan perangkat desa belum punya pengalaman mengelola keuangan negara, belum punya peralatan lengkap untuk mengelola keuangan negara,” kata Eko ketika membuka Sosialisasi Prioritas Penggunaan Dana Desa 2019, serta Evaluasi Kebijakan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Banten di Lapangan Kecamatan Pagedangan, Kota Tangerang, Minggu 4 November 2018.

Ia pun mengklaim pengucuran dana itu juga telah menurunkan angka kemiskinan desa, stunting dan pengangguran terbuka. Terkait penurunan kemiskinan, ada penurunan pada tahun ini dibanding tahun lalu.

Angka kemiskinan secara nasional saat ini bisa ditekan sebanyak 1,82 juta orang. Angka tersebut lebih banyak disumbangkan oleh desa, yakni sebanyak 1,29 juta orang.

Sementara penurunan di kota hanya 580 ribu orang. Untuk stunting, ia mengatakan telah terjadi penurunan dari tahun lalu sebesar 37 persen menjadi 30 persen di tahun ini.

Selain itu, GDP per kapita di desa naik hampir 50 persen dari 573 ribu per bulan per orang pada tahun lalu, menjadi 804 ribu per bulan per orang pada tahun ini.

“Dengan hampir tercukupinya infrastruktur dasar di desa, maka prioritas penggunaan dana desa akan lebih diarahkan ke pemberdayaan dan ekonomi desa. Diharapkan ini akan mempersiapkan desa menjadi lebih mandiri,” tuturnya.

Pemberdayaan ekonomi desa
Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengatakan, sejak dana desa dikucurkan, jalan desa yang telah terbangun sepanjang 95 ribu kilometer, kemudian ada 914 jembatan yang dibangun, lalu 22 ribu pembangunan akses air dan PAUD sebanyak 14 ribu unit.

Dia menyebut pembangunan infrastruktur di desa melalui dana desa itu tidak lepas dari peran pendamping desa. “Mari kita bersama-sama pendamping desa supaya dana desa ini tepat sasaran,” tutur Jokowi.

Tujuan pengucuran dana desa, tambah Jokowi, kini tidak hanya sebatas infrastruktur, tapi akan digeser ke pemberdayaan ekonomi desa dan inovasi desa. “Ini yang namanya dana desa negara lain mulai tiru kita. World Bank katakan banyak negara tiru dana desa. Banyak sekali ingin lihat cara transfer penggunaannya seperti apa,” katanya.

Ia kemudian menekankan supaya desa jeli memanfaatkan potensi pasar. Hal itu bertujuan agar warga desa bisa produktif dan hasil produksinya terserap di pasar.

Share and Enjoy !

Shares